Sebetulnya bentuk bagaimanakah yang ideal untuk bisnis Open Source? Tak ada satu jawaban yang sama, seperti halnya bisnis TI apakah yang ideal. Hingga saat ini ada beberapa model bisnis yang bisa diterapkan dengan program Open Source
1. Support/seller.
Pada model bisnis ini disamping menekankan pada penjualan media
distribusi dan branding, juga pada pelatihan, jasa konsultasi,
kustomisasi dan dukungan teknis purna jual. Hal tersebut bisa dilakukan
secara terpisah. Model inilah yang banyak dilakukan oleh perusahaan
distro Linux. Bisa juga perusahaan pembuat distro tidak menyediakan
dukungan teknis, tetapi perusahaan lain yang tak membuat distro menjadi
penyedia dukungan teknis. Hal ini sangat dimungkinkan dalam model bisnis
open source, karena tidak adanya monopoli.
2. Pemberian Jasa Solusi Terpadu.
Pada model bisnis ini, software Open Source tidak berdiri sebagai
suatu produk yang dijual. Tetapi akan dikemas menjadi satu dengan jasa
lainnya, misal jasa instalasi, kustomisasi, implementasi, pelatihan yang
dikemas menjadu satu paket produk. Misal SuSE dengan distribusinya
membuka peluang untuk memperoleh proyek di beberapa bank di Jerman. Saat
distribusi yang dikemas SuSE ditawarkan dengan solusi terpadu, banyak
pihak (terutama di Eropa yang berpusat di Jerman) mempercayai SuSE untuk
membangun jaringan mereka, lengkap dengan support dan pelatihan.
Sebagai contoh akselerator partikel di Jerman, DESY menggunakan SuSE Linux di semua workstation yang digunakannya. Sparkasse Bank di Jerman juga memanfaatkan SuSE Linux.
3. Penjualan perangkat lunak dengan nilai lebih.
Sebagai analogi, bahwa setiap orang bisa memasak air, namun
perusahaan Aqua hingga sekarang masih jalan dengan baik. Begitu pula
software, jika ditambahkan nilainya, dikemas dengan baik, tentu
orang-orang akan membelinya. Yang menjadi tantangan tentulah membangun
brand di tengah pasar yang dituju. Sebagai contoh, RedHat yang membundel
Software-nya dengan Oracle, UnicenterTNG, hingga merambah ke embedding
device dengan menjalin kerja sama ke Ericcson, Hitachi dan Motorolla.
Untuk pembundelan dengan hardware, RedHat bekerja sama dengan vendor
besar macam IBM. Penambahan nilai yang diberikan oleh RedHat, tentu akan
memberikan jaminan lebih tinggi terhadap distribusinya untuk dibeli dan
dimanfaatkan secara massal.
4. Program Open Source sebagai service enabler
Sebuah perusahaan yang memiliki core business di dalam penjualan
perangkat lunak propietary (baik level aplikasi maupun level sistem
operasi yang dibundel dengan hardware), dapat memanfaatkan proyek open
source sebagai service enabler (bagian dari perangkat marketing). Adanya
software open source yang diberikan perusahaan itu menyebabkan konsumen
cenderung akan membeli perangkat keras atau perangkat lunak dari
perusahaan tersebut. Hal ini juga dilakukan dengan membantu banyak
proyek open source yang bila berjalan akan mendorong ke arah pembelian
produk perusahaan tersebut lainnya. Hal ini juga membantu perusahaan
dalam menciptakan brand image, bahwa perusahaan tersebut peduli terhadap
komunitas. Perusahaan yang menerapkan hal ini misalnya SUN Microsystem
yang melepas StarOffice dan SGI (Silicon Graphics) yang merelease
Journaling File System dan beberapa aplikasi grafisnya. Ini juga
dilakukan beberapa vendor card seperti Creative (Sound Blaster).
5. Software Franchising.
Model bisnis ini merupakan model kombinasi antara brand licensing
dan support/seller. Sebuah perusahaan yang memiliki distribusi Linux,
dapat membangun sendiri komunitasnya. Dengan model berlangganan,
pelanggannya dapat memperoleh fasilitas gratis, dan upgrade gratis.
Selain pengguna, juga terdapat didalamnya komunitas reseller, dan
kontributor. Untuk itu cukup dikenakan biaya berlangganan dengan nilai
yang relatif rendah, namun menjadi berarti saat dikumulatifkan dalam
jumlah besar (dengan sasaran komunitas yang berjumlah besar). Model ini
mirip trend Application Service Provider dan telah diterapkan oleh
Trustix dengan produk Xploy -nya sejak awal. Pengguna tak perlu membeli
perangkat lunak. Jelas biaya upgrade tidak dibutuhkan karena sudah
termasuk dalam biaya langganan.
6. Widget frosting.
Model ini dilakukan pada dasarnya dengan menjual perangkat keras
yang menggunakan program open source untuk menjalankan perangkat keras
seperti sebagai driver atau lainnya. Misal pembuatan MP3 player dengan
memanfaatkan sistem operasi Linux. Contoh yang sudah banyak beredar
adalah Cobalt server, firewall CyberGuard, Radio Internet , dan
sebagainya. Penggunaan Linux memungkinkan ongkos produksi lebih rendah
untuk menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.
7. Accecorizing atau Merchandizing.
Perusahaan mendistribusikan buku, perangkat keras, atau barang
fisik lainnya yang berkaitan dengan produk Open Source, misal penerbitan
buku OReilly, atau pembuatan boneka, topi dan kaos. Pengguna logo
ataupun materi Open Source relatif tidak membutuhkan biaya lisensi
ketimbang materi closed source. Penerbitan majalah Linux ini telah
diterapkan di Indonesia oleh majalah InfoLinux (yang bakal terbit di
awal Januari 2001). Melihat model di atas tampak adanya kecenderungan
model bisnis di perangkat lunak makin menyerupai model bisnis pada
media. Perkiraan ini seperti yang diutarakan oleh Daniel Burnstein dan
David Kline (1995) dalam bukunya, Road Warriors : Dreams and Nightmare
along the Information Highway. Perubahan ini cepat atau lambat akan
makin terasa tanpa kita sadari. Gratisnya Open Source sering menimbulkan
pandangan bahwa tak ada kemungkinan bisnis di dalamnya. Tetapi kalau
kita melihat saat ini banyak bisnis memakai model gratis, baik sebagai
service enabler atau sebagai fungsi lainnya. Sebagai contoh banyak
majalah atau koran yang dibagikan gratis (dalam hal ini pemasukan adalah
dari iklan). Di Jerman atau di banyak negara Eropa, handphone bisa
didapatkan seharga 0 DM (alias gratis), asalkan pengguna membayar uang
langganan per bulan sehingga handphone berfungsi sebagai service
enabler. Di Inggris pengguna telah memiliki pilihan melakukan koneksi ke
Internet tanpa membayar. Juga dengan adanya software yang bersifat
adware, yaitu pengguna mendapat perangkat lunak gratis tetapi harus
menonton iklan menunjukkan. Hal ini semua menunjukan bahwa ada suatu
peluang bisnis, walau sepintas lalu barangnya gratis. Selain
bentuk-bentuk yang sudah berjalan di atas, tidak menutup kemungkinan
akan munculnya bentuk-bentuk lain yang lebih kreatif. Hal ini sudah
menjadi konsekuensi logis dari sifat open source yang terbuka bebas.
Selain kreatifitas, ada dinamika, penghargaan terhadap heterogenitas,
hingga nilai sosial yang dibawanya dalam bisnis kapitalis di bidang TI.
Sudah saatnya praktisi TI di Indonesia mengambil manfaat dari beberapa
contoh kasus di atas, dan mencuri peluang dari terbukanya metode open
source. Memang bila kita tidak memahami model Open Source, maka berita
seperti runtuhnya harga saham RedHat seperti menunjukkan bahwa tidak ada
jaminan bagi pengguna Linux. tetapi bila kita sadar bahwa model bisnis
Open Source sangat berbeda dengan closed source tentunya kita malah
melihat suatu kesempatan yang terbuka luas di depan mata. Bila
perusahaan sekaliber IBM mulai memperbesar unit Linuxnya (apalagi
setelah tersedia port ke mainframe S/390), dan perusahaan seperti
Hewlett-Packard (HP) mengontrak Bruce Perens untuk unit Linux-nya. Tentu
ada suatu potensi bisnis yang tak bisa disia-siakan. Inginkah kita
hanya sebagai penonton terhadap perubahan paradigma ini ? Baru sadar
setelah kita kembali menjadi pengikut saja dan medan sudah dikuasai
orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar